Transformasi Peran Guru di Era Digital
Transformasi
Peran Guru di Era Digital
“Teknologi tidak akan
menggantikan guru, tetapi guru yang tidak menggunakan teknologi akan
tergantikan.” Kalimat populer ini menggambarkan realitas pendidikan modern. Di
tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sedang mengalami transformasi
mendalam. Guru bukan lagi sage on the stage, tetapi guide on the side—pendamping
yang menuntun siswa menemukan makna belajar di tengah banjir informasi.
Otomatisasi telah
mengubah banyak aspek pekerjaan guru: sistem presensi otomatis, penilaian
berbasis AI, hingga pembuatan laporan otomatis. Efisiensi ini seharusnya
memberi ruang bagi guru untuk fokus pada hal yang tak tergantikan oleh mesin:
empati, komunikasi, dan motivasi. Dalam dunia pendidikan digital, nilai
tertinggi seorang guru bukan pada kemampuannya menyampaikan materi, tetapi pada
kemampuannya menginspirasi.
Namun, perubahan ini
memerlukan dukungan nyata berupa pelatihan profesional berkelanjutan
(Continuous Professional Development). Banyak guru masih gagap teknologi karena
tidak mendapatkan pelatihan yang relevan. Padahal, literasi digital pedagogis
adalah fondasi utama agar teknologi benar-benar meningkatkan mutu pembelajaran,
bukan sekadar menjadi beban administratif.
Guru masa depan harus
mampu berkolaborasi dengan teknologi—menggunakan AI untuk menilai, data
analitik untuk memahami pola belajar siswa, dan media digital untuk merancang
pengalaman belajar yang bermakna. Tetapi pada saat yang sama, mereka harus
menjaga sisi humanistik pendidikan: mengajarkan empati, nilai moral, dan
kebijaksanaan sosial yang tidak bisa diajarkan oleh algoritma.