Transformasi Pembelajaran Tradisional Menuju Model Berbasis Kelas Interaktif
Perubahan paradigma pendidikan di era digital menuntut dunia akademik untuk melakukan transformasi pembelajaran dari model tradisional menuju model berbasis kelas interaktif. Hal ini menjadi fokus utama dalam sesi perkuliahan mahasiswa Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang diampu oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd, seorang pakar yang dikenal luas dalam bidang desain dan pengembangan model pembelajaran inovatif.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Mustaji memaparkan bahwa model tradisional yang berpusat pada dosen kini tidak lagi memadai untuk menjawab kebutuhan pembelajaran abad ke-21. “Kelas tidak boleh lagi menjadi ruang pasif tempat mahasiswa hanya mendengarkan. Kelas harus menjadi learning laboratory—ruang eksperimen ide, interaksi, dan refleksi,” tegasnya.
Melalui pendekatan classroom-oriented, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa pembelajaran interaktif tidak hanya berarti penggunaan teknologi canggih, tetapi juga pengelolaan interaksi manusia yang efektif dan bermakna. Dalam konteks ini, dosen berperan sebagai fasilitator dan pengarah proses belajar, sementara mahasiswa menjadi subjek aktif yang mengonstruksi pengetahuan melalui dialog, kolaborasi, dan eksplorasi mandiri.
Diskusi kelas menyoroti beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk mewujudkan pembelajaran interaktif, di antaranya:
- Penerapan metode diskusi reflektif yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan mengaitkan teori dengan konteks lapangan.
- Desain aktivitas berbasis proyek (Project-Based Learning) yang memungkinkan mahasiswa menghasilkan produk ilmiah dari pengalaman nyata.
- Pemanfaatan teknologi interaktif seperti virtual whiteboard, learning management system, dan simulasi digital yang memperluas pengalaman belajar.
Salah satu mahasiswa mengemukakan bahwa transformasi ini menuntut adanya perubahan budaya belajar. “Interaktif tidak selalu berarti banyak berbicara, tetapi lebih pada bagaimana setiap mahasiswa terlibat secara mental dan emosional dalam proses belajar,” ujarnya.
Prof. Mustaji menanggapi dengan menekankan pentingnya keseimbangan antara teknologi dan nilai humanistik. “Teknologi memperluas jangkauan pembelajaran, tetapi interaksi antarmanusia tetap menjadi inti dari pendidikan. Dosen dan mahasiswa harus sama-sama belajar menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran yang terbuka dan adaptif,” jelasnya.
Melalui sesi ini, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan tidak hanya mempelajari teori pengembangan model, tetapi juga mempraktikkan bagaimana membangun dinamika kelas yang mendorong kolaborasi, kreativitas, dan kemandirian belajar. Kegiatan berlangsung dalam suasana akademik yang hidup, di mana setiap peserta aktif berbagi pengalaman dan refleksi tentang penerapan model interaktif di lingkungan kerja masing-masing.
Sebagai penutup, Prof. Mustaji mengingatkan bahwa transformasi pembelajaran bukan hanya tentang perubahan metode, melainkan perubahan paradigma berpikir. Ia menegaskan, “Interaktivitas sejati muncul ketika kelas menjadi tempat lahirnya dialog yang memanusiakan, bukan sekadar transfer informasi.”
Dengan semangat tersebut, mahasiswa S3 UNESA terus berkomitmen untuk mengembangkan model pembelajaran berbasis kelas yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga kontekstual dengan kebutuhan masyarakat dan dunia pendidikan modern.