Student Wellbeing
Student Wellbeing
Kesejahteraan peserta
didik (student wellbeing) merupakan dimensi penting dari pendidikan
berkualitas yang sering kali terabaikan. SDG 4 menekankan bahwa pendidikan
harus menjamin perkembangan holistik siswa, mencakup aspek akademik, emosional,
sosial, dan fisik. Tanpa kesejahteraan yang baik, proses belajar tidak akan
berlangsung optimal karena siswa tidak mampu berpartisipasi secara penuh dalam
kegiatan pendidikan.
Faktor-faktor yang
memengaruhi kesejahteraan siswa antara lain lingkungan belajar, hubungan dengan
guru dan teman, tekanan akademik, serta kondisi keluarga. Sekolah yang sehat
secara emosional mampu menciptakan atmosfer positif yang mendukung perkembangan
mental dan sosial siswa. Pendidikan karakter dan kegiatan berbasis empati dapat
memperkuat kesejahteraan emosional anak.
Sayangnya, masih banyak
institusi pendidikan yang terlalu fokus pada capaian akademik hingga
mengabaikan aspek kesejahteraan psikologis. Tekanan untuk berprestasi sering
kali memicu stres, kecemasan, bahkan depresi di kalangan siswa. Minimnya
konselor sekolah dan dukungan psikososial memperburuk situasi ini.
Oleh karena itu, penting
bagi sekolah untuk menerapkan pendekatan whole-school wellbeing, yaitu
strategi komprehensif yang mengintegrasikan kesehatan mental, kegiatan
rekreatif, dan komunikasi terbuka antara guru, siswa, dan orang tua. Pemerintah
juga perlu menyediakan tenaga psikolog pendidikan di setiap sekolah.
Dengan memperhatikan
kesejahteraan siswa, pendidikan dapat menjadi ruang tumbuh yang sehat dan
membahagiakan. Kesejahteraan bukan hanya tujuan tambahan, tetapi inti dari
pendidikan berkualitas yang humanis dan berkelanjutan sebagaimana
dicita-citakan dalam SDG 4.