Refleksi Mahasiswa S3: Pembelajaran yang Hidup dari Dalam Kelas
Dalam suasana akademik yang penuh semangat di Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), para mahasiswa S3 kembali memperdalam konsep Classroom-Oriented Models melalui kegiatan refleksi bertema “Pembelajaran yang Hidup dari Dalam Kelas”. Kegiatan ini dipandu oleh Prof. Dr. Mustaji, M.Pd dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd, dua pakar pendidikan yang mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan dinamika kehidupan pembelajaran di dalam kelas secara nyata.
Dalam pembukaannya, Prof. Mustaji menekankan bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang “hidup” — artinya, mampu menumbuhkan partisipasi, makna, dan pengalaman belajar yang otentik di antara mahasiswa. “Kelas bukan hanya tempat transfer pengetahuan, tetapi juga laboratorium untuk membangun kesadaran, refleksi, dan kolaborasi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa teori Classroom-Oriented Models menuntut pendidik untuk menciptakan interaksi yang aktif, saling menghargai, dan mendalam dalam proses belajar.
Para mahasiswa S3 kemudian diajak untuk melakukan refleksi mendalam terhadap pengalaman belajar mereka sendiri, terutama dalam konteks penerapan model pembelajaran berbasis kelas. Mereka membahas bagaimana desain aktivitas, peran dosen sebagai fasilitator, dan strategi umpan balik memengaruhi keterlibatan dan motivasi belajar.
Salah satu mahasiswa, dalam paparannya, menyampaikan bahwa pembelajaran yang hidup justru muncul ketika dosen memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bereksperimen dan mengonstruksi pengetahuan melalui diskusi terbuka. “Ketika kami diberi kesempatan untuk mengembangkan ide, menguji konsep, dan merefleksi hasilnya, kelas menjadi lebih bermakna. Kami tidak hanya belajar, tapi juga merasa tumbuh,” ungkapnya.
Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat menambahkan bahwa refleksi mahasiswa ini adalah bagian penting dari proses pengembangan model pembelajaran. Ia menjelaskan bahwa dalam pendekatan Classroom-Oriented, mahasiswa tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi juga subjek aktif yang memiliki kontribusi dalam menciptakan suasana belajar yang produktif. “Refleksi memberi kita cermin untuk melihat apa yang berhasil, apa yang perlu diperbaiki, dan bagaimana pembelajaran bisa lebih manusiawi,” ujarnya.
Selain berbagi pengalaman pribadi, mahasiswa juga mendiskusikan bagaimana teori Classroom-Oriented Models dapat diterapkan di berbagai konteks pendidikan — dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi. Mereka sepakat bahwa keberhasilan penerapan model ini tidak hanya bergantung pada desain instruksional, tetapi juga sikap reflektif dan kolaboratif dari seluruh peserta pembelajaran.
Dalam sesi penutup, Prof. Mustaji mengapresiasi kedalaman refleksi para mahasiswa dan menegaskan pentingnya menjadikan pengalaman kelas sebagai sumber pengetahuan yang berkelanjutan. “Kita belajar bukan hanya dari buku, tetapi juga dari kehidupan di dalam kelas itu sendiri. Kelas adalah ekosistem belajar, tempat di mana teori dan praktik saling berjumpa dan memperkaya satu sama lain,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, para mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA semakin menyadari bahwa pembelajaran yang efektif tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kedalaman pengalaman belajar yang membentuk karakter dan cara berpikir ilmiah.
Kegiatan reflektif ini menjadi penutup yang bermakna dalam rangkaian pembahasan minggu pertama bulan November 2025, mempertegas bahwa Classroom-Oriented Models bukan hanya kerangka teori, melainkan gerakan menuju pembelajaran yang hidup, interaktif, dan berorientasi pada pertumbuhan manusia seutuhnya.