Peran Relawan Pendidikan dalam Menjamin Berlangsungnya PJJ Korban Bencana
Peran Relawan Pendidikan dalam Menjamin Berlangsungnya PJJ Korban Bencana
Relawan pendidikan menjadi pilar penting
dalam memastikan keberlangsungan pembelajaran jarak jauh di wilayah terdampak
bencana, termasuk Aceh dan Sumatra. Banyak guru kehilangan akses ke murid
mereka karena kerusakan infrastruktur, perpindahan tempat tinggal, dan kondisi
darurat. Dalam situasi tersebut, relawan muncul sebagai penghubung antara
sekolah, guru, dan siswa. Peran mereka bukan hanya mengantarkan materi belajar,
tetapi juga memberikan dukungan emosional, logistik, dan pendampingan yang
tidak dapat dilakukan secara daring.
Relawan pendidikan biasanya berasal dari
mahasiswa, lembaga sosial, atau komunitas lokal. Mereka melakukan kegiatan
seperti membagikan modul cetak, membantu siswa memahami materi, dan
memfasilitasi jalur komunikasi antara guru dan orang tua. Hubungan langsung
yang mereka bangun dengan siswa menjadi aspek penting, terutama ketika siswa
mengalami trauma. Relawan sering kali menjadi figur yang memberikan rasa aman
dan motivasi tambahan.
Selain pendistribusian materi belajar,
relawan juga berperan dalam menyediakan ruang belajar alternatif. Di beberapa
daerah di Aceh, relawan mendirikan tenda-tenda belajar di area pengungsian.
Tenda ini digunakan sebagai pusat pembelajaran, tempat diskusi, atau sesi
konseling kelompok kecil. Dengan adanya ruang fisik sementara, siswa tetap
dapat merasakan atmosfer belajar walaupun kondisi darurat masih berlangsung.
Ruang seperti ini telah terbukti membantu mengembalikan rutinitas belajar
siswa.
Kehadiran
relawan juga penting untuk memonitor perkembangan akademik siswa. Guru yang
berada jauh sering kesulitan menilai apakah siswa benar-benar belajar. Relawan
dapat membantu mengumpulkan tugas, mengecek pemahaman, dan memberikan laporan
kondisi siswa kepada sekolah. Komunikasi yang terjalin membantu guru merancang
pembelajaran lebih baik, meskipun mereka tidak dapat hadir secara fisik.
Relawan juga berperan dalam literasi
digital darurat. Mereka membantu siswa yang memiliki perangkat namun tidak
memahami cara menggunakan aplikasi pembelajaran. Pelatihan singkat mengenai
penggunaan kamera, pengiriman tugas, atau mengakses materi online sangat
membantu siswa tetap terhubung dengan pembelajaran. Tanpa bantuan
relawan, banyak siswa mungkin tertinggal hanya karena ketidaktahuan teknis.
Kerja sama
antara relawan dan guru sangat diperlukan agar aktivitas pendampingan tetap
terarah. Guru perlu memberikan panduan yang jelas tentang materi apa yang harus
disampaikan, tugas apa yang harus dikumpulkan, dan bagaimana relawan memberikan
laporan perkembangan siswa. Relawan yang bekerja tanpa pedoman berisiko
memberikan informasi yang tidak konsisten. Oleh karena itu, pelatihan singkat
bagi relawan juga penting dilakukan.
Pada
akhirnya, relawan pendidikan bukan sekadar pengganti guru, tetapi elemen
pendukung yang memperkuat ekosistem pendidikan selama bencana. Peran mereka
menunjukkan bahwa keberhasilan PJJ tidak hanya ditentukan oleh teknologi,
tetapi juga oleh kolaborasi manusia yang peduli. Aceh dan Sumatra dapat
mengembangkan sistem relawan terstruktur sebagai bagian dari manajemen
pendidikan kebencanaan jangka panjang. Dengan demikian, keberlangsungan pendidikan tetap terjaga meskipun bencana
datang secara tiba-tiba.