Pentingnya Desain Kelas yang Berbasis Aktivitas dan Kolaborasi
Dalam perkuliahan mata kuliah Landasan Prosedur Pengembangan Model Pembelajaran di Program Doktor Teknologi Pendidikan UNESA, Prof. Dr. Mustaji, M.Pd bersama Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd menyoroti pentingnya desain kelas berbasis aktivitas dan kolaborasi sebagai pondasi pembelajaran abad ke-21. Kegiatan yang berlangsung di ruang perkuliahan Pascasarjana UNESA ini menjadi ajang reflektif bagi mahasiswa S3 dalam memahami penerapan model Classroom-Oriented yang kontekstual dan inovatif.
Dalam pembukaannya, Prof. Mustaji menegaskan bahwa keberhasilan pembelajaran di tingkat pascasarjana tidak lagi hanya diukur dari seberapa banyak teori yang dikuasai mahasiswa, melainkan dari bagaimana mereka mampu menerapkan teori tersebut melalui aktivitas nyata dan kolaborasi yang bermakna. “Desain kelas yang baik harus mampu menggerakkan mahasiswa untuk aktif berpikir, berdiskusi, berkreasi, dan membangun makna secara bersama. Inilah esensi dari pembelajaran berbasis aktivitas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dosen berperan sebagai learning architect—arsitek pembelajaran—yang bertugas merancang suasana kelas agar memfasilitasi berbagai gaya belajar mahasiswa. Dengan demikian, kelas tidak lagi menjadi ruang satu arah, tetapi ruang dinamis tempat terjadinya interaksi multiarah antara dosen, mahasiswa, dan sumber belajar.
Dalam sesi diskusi, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat memperkuat pandangan tersebut dengan menjelaskan bahwa kolaborasi bukan sekadar bekerja bersama, melainkan proses membangun pengetahuan secara kolektif. “Ketika mahasiswa berdialog, mereka tidak hanya bertukar pendapat, tetapi sedang membangun pemahaman baru. Inilah kekuatan kolaborasi dalam konteks Classroom-Oriented Models,” jelasnya.
Mahasiswa S3 pun diajak untuk menganalisis berbagai contoh desain kelas berbasis aktivitas, mulai dari pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), simulasi, hingga problem-solving discussions. Dalam kegiatan ini, mahasiswa menilai kelebihan dan kekurangan dari tiap pendekatan, lalu mencoba merancang model pembelajaran yang sesuai dengan konteks riset disertasinya masing-masing.
Salah satu mahasiswa menyampaikan refleksi bahwa desain kelas yang berfokus pada aktivitas dan kolaborasi mampu meningkatkan sense of ownership terhadap proses belajar. “Kami merasa lebih terlibat dan bertanggung jawab terhadap hasil belajar kami sendiri. Aktivitas kolaboratif membuat kami belajar lebih dalam, bukan hanya dari dosen, tapi juga dari rekan sejawat,” ungkapnya.
Prof. Mustaji menanggapi dengan apresiasi dan menegaskan bahwa pembelajaran aktif dan kolaboratif adalah pondasi dari inovasi pendidikan. Ia mencontohkan bahwa di era digital, mahasiswa tidak hanya perlu menjadi konsumen pengetahuan, tetapi juga produsen ide yang kritis dan kreatif. “Desain kelas yang berorientasi pada aktivitas bukan hanya strategi pedagogik, tetapi juga investasi jangka panjang untuk membentuk pemikir-pemikir reflektif,” ujarnya.
Dalam bagian akhir perkuliahan, kedua pengampu mata kuliah menegaskan bahwa tantangan terbesar bagi pendidik masa kini adalah menciptakan keseimbangan antara struktur pembelajaran yang terencana dan kebebasan belajar yang menumbuhkan kreativitas. Kelas yang efektif, menurut mereka, adalah kelas yang “menghidupkan peserta didik”, bukan sekadar mengajarkan materi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembahasan tema Classroom-Oriented Models pada minggu pertama bulan November 2025, yang menekankan pentingnya peran desain kelas dalam membentuk pengalaman belajar yang otentik dan bermakna. Melalui pandangan dan arahan dari Prof. Mustaji dan Dr. Syaiputra Wahyuda, mahasiswa S3 UNESA diajak untuk melihat pembelajaran bukan hanya sebagai kegiatan akademik, tetapi sebagai proses sosial dan intelektual yang menumbuhkan kolaborasi, inovasi, dan transformasi diri.