Pendekatan Problem Posing dalam Kelas Daring Saat Krisis
Pendekatan Problem Posing dalam Kelas Daring Saat
Krisis
Problem posing adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan kemampuan
siswa untuk mengidentifikasi, merumuskan, dan memecahkan masalah. Di masa
bencana alam seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatra, pendekatan ini menjadi
sangat relevan, karena siswa dihadapkan pada situasi nyata yang membutuhkan
pemikiran kritis dan solusi kreatif. Pendekatan problem posing mengubah bencana
dari hambatan menjadi konteks belajar yang bermakna.
Dalam praktik daring, guru dapat memandu siswa untuk melihat fenomena di
sekitar mereka—banjir, longsor, atau dampak gempa—dan kemudian membuat
pertanyaan yang relevan. Misalnya, siswa dapat ditantang untuk menanyakan:
“Bagaimana cara menjaga keamanan keluarga saat hujan deras mengakibatkan
banjir?” atau “Apa dampak jangka pendek dan panjang dari gempa terhadap
lingkungan sekitar?”. Pertanyaan ini bukan hanya mengasah kemampuan berpikir
kritis, tetapi juga membuat pembelajaran kontekstual, relevan, dan langsung
terkait kehidupan siswa.
Selain itu, problem posing mendorong siswa untuk menjadi agen aktif dalam
proses belajar. Mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat dalam
merancang pertanyaan dan solusi. Dalam situasi darurat, ini memberikan rasa
kontrol dan pemberdayaan bagi siswa, yang sering kali merasa cemas atau tidak
berdaya karena kondisi bencana.
Implementasi daring dapat dilakukan melalui berbagai media ringan, seperti
grup WhatsApp, forum diskusi sederhana, atau dokumen berbagi offline. Guru
berperan sebagai fasilitator, memberikan arahan minimal, tetapi tetap memberi
umpan balik, menyusun pertanyaan pendorong, dan menstimulasi refleksi siswa.
Hal ini juga memungkinkan interaksi personal, sekaligus memelihara koneksi
sosial di tengah isolasi fisik akibat bencana.
Kelebihan lain dari problem posing adalah fleksibilitas waktu. Siswa dapat
menulis pertanyaan dan jawaban mereka kapan saja sesuai kondisi rumah atau
evakuasi. Materi dapat disesuaikan dengan keterbatasan jaringan, sehingga
pembelajaran tetap berkelanjutan tanpa menambah stres siswa.
Dengan demikian, pendekatan problem posing dalam kelas daring bukan hanya
mendukung pengembangan keterampilan abad 21 seperti berpikir kritis dan
kreativitas, tetapi juga memfasilitasi pembelajaran yang manusiawi, relevan,
dan tanggap bencana. Bencana menjadi kesempatan untuk belajar tentang
ketahanan, adaptasi, dan penerapan ilmu dalam kehidupan nyata.