Mengukur Keberhasilan Pembelajaran melalui Produk Nyata
Dalam era pendidikan modern yang menuntut hasil konkret dan terukur, Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menegaskan relevansi pendekatan Product-Oriented Models sebagai strategi pembelajaran yang berorientasi pada hasil nyata. Melalui kegiatan akademik bertema “Mengukur Keberhasilan Pembelajaran melalui Produk Nyata”, para mahasiswa S3 didorong untuk menilai efektivitas proses belajar bukan hanya dari teori atau evaluasi tertulis, tetapi dari kualitas dan kebermanfaatan produk yang mereka hasilkan.
Kegiatan ini berlangsung pada 4 November 2025 dan dipandu oleh dua pakar pendidikan terkemuka, Prof. Dr. Mustaji, M.Pd serta Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd, yang keduanya menjadi pengampu dan penguat dalam mata kuliah Pengembangan Model Pembelajaran.
Dalam pembukaannya, Prof. Mustaji menjelaskan bahwa paradigma evaluasi pembelajaran kini telah bergeser dari orientasi hasil akademik menuju performance-based assessment atau penilaian berbasis kinerja. “Keberhasilan pembelajaran bukan lagi diukur dari seberapa banyak teori yang dikuasai, melainkan dari bagaimana mahasiswa dapat menerapkan teori itu menjadi solusi nyata melalui produk,” tegasnya.
Beliau mencontohkan, dalam konteks pendidikan teknologi, produk nyata dapat berupa media pembelajaran digital, aplikasi edukatif, simulasi interaktif, atau perangkat evaluasi berbasis AI. Produk-produk tersebut mencerminkan penerapan konsep teoritis dalam konteks praktis yang relevan dengan kebutuhan lapangan.
Sementara itu, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat menambahkan bahwa setiap produk yang dihasilkan mahasiswa harus memenuhi tiga indikator utama, yaitu inovasi, keberfungsian, dan dampak pendidikan. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu membangun kesadaran bahwa setiap inovasi memiliki siklus yang dimulai dari ide, dikembangkan menjadi konsep, diuji secara empiris, lalu diukur efektivitasnya di lingkungan nyata.
“Dalam pembelajaran berbasis produk, proses dan hasil berjalan beriringan. Mahasiswa tidak hanya menciptakan sesuatu yang baru, tetapi juga bertanggung jawab memastikan bahwa produk tersebut benar-benar memberikan perubahan dalam praktik pembelajaran,” ungkap Dr. Syaiputra.
Kegiatan tersebut juga diisi dengan sesi presentasi hasil proyek mahasiswa yang menampilkan berbagai bentuk produk edukatif. Beberapa di antaranya meliputi media pembelajaran interaktif berbasis realitas tertambah (AR), sistem penilaian adaptif untuk pelatihan guru, dan modul pembelajaran digital berbasis pengalaman belajar personalisasi.
Dalam sesi diskusi, mahasiswa diminta menjelaskan proses riset yang mendasari desain produk mereka, mulai dari identifikasi kebutuhan pengguna, analisis masalah pembelajaran, hingga pengujian efektivitas produk terhadap peningkatan hasil belajar.
Prof. Mustaji memberikan apresiasi terhadap semangat inovatif mahasiswa yang berusaha menjembatani antara teori dan praktik. “Model Product-Oriented seperti ini sejatinya melatih mahasiswa berpikir sebagai peneliti sekaligus pengembang. Mereka tidak hanya menulis konsep, tetapi juga mengeksekusi gagasan tersebut dalam bentuk nyata,” tuturnya.
Beliau juga menekankan pentingnya evaluasi formatif dan sumatif dalam menilai produk yang dikembangkan. Evaluasi formatif dilakukan selama proses desain untuk memastikan kesesuaian arah pengembangan, sementara evaluasi sumatif dilakukan setelah produk jadi untuk mengukur efektivitas dan keberlanjutan penggunaan di lapangan.
Di akhir sesi, Dr. Syaiputra menegaskan bahwa pendekatan Product-Oriented Models bukan sekadar tentang menghasilkan barang, tetapi tentang menanamkan nilai profesionalisme, tanggung jawab akademik, dan kemampuan problem solving tingkat tinggi. “Mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan UNESA diharapkan tidak hanya memahami teori pengembangan model, tetapi juga mampu menunjukkan bukti nyata berupa karya yang dapat diimplementasikan dalam pendidikan,” ujarnya.
Kegiatan ini menegaskan peran penting pendidikan pascasarjana sebagai laboratorium inovasi tempat teori diuji, ide diwujudkan, dan produk dikembangkan. Dengan mengedepankan model pembelajaran berbasis produk, UNESA terus mempersiapkan lulusan doktor yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan siap menjadi penggerak perubahan di dunia pendidikan global.