Mahasiswa S3 TP Unesa Kembangkan Model Zero Entrepreneurial Project Based Learning untuk Wirausaha Tanpa Modal
SURABAYA - Seorang mahasiswa program doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil mengembangkan model pembelajaran inovatif untuk mendorong kewirausahaan tanpa modal. Model yang diberi nama Zero Entrepreneurial Project Based Learning (ZEP) ini telah lulus validasi dari sembilan ahli nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan fakta mengejutkan: sebanyak 81,80% pemuda Indonesia bekerja sebagai karyawan, sementara hanya 18,21% yang berwirausaha. Dari jumlah wirausaha tersebut, hanya 12,77% yang berusaha mandiri.
"Angka ini menunjukkan kesenjangan besar dalam hal kewirausahaan di Indonesia. Padahal, menjadi wirausahawan sebenarnya pilihan yang lebih cerdas dan menguntungkan," ungkap Sugiarso, mahasiswa pengembang model ZEP.
Sugiarso, yang juga merupakan Koordinator Papuan Bridge Program PT Freeport Indonesia, mengembangkan model pembelajaran khusus untuk mengatasi masalah ini. Model ZEP dirancang khusus untuk merintis usaha mikro dengan modal nol rupiah.
"Kebanyakan orang tidak bisa memulai bisnis karena merasa tidak punya modal yang cukup. Padahal, banyak orang yang bermodal puluhan juta justru bangkrut. Masalahnya bukan di uang, tapi di mental," jelas pria yang sudah 25 tahun berkecimpung di dunia pelatihan ini.
Model ZEP dikembangkan berdasarkan teori belajar konstruktivisme dan konektivisme yang diperkuat dengan teori perusahaan. Konsep utamanya adalah "tidak punya uang justru harus berusaha untuk mendapatkan uang, bukan sebaliknya."
Pada 15-31 Agustus 2025, model ZEP telah melewati proses validasi ketat dari sembilan validator ahli yang terdiri dari:
Prof. Dr. Mashudi, M.Pd (Direktur Pascasarjana UIN KHAS Jember)
Prof. Dr. Wahidmurni, M.Pd (Direktur Pascasarjana UIN Malik Ibrahim Malang)
Prof. Dr. Bambang Hariadi, M.Pd (Wakil Rektor III Universitas Dinamika Surabaya)
Dr. Syaiputra M. Diningrat, M.Pd (Universitas Negeri Surabaya)
Dr. Khaerudin, M.Pd (Ketua Prodi S2 Teknologi Pendidikan UNJ)
Dr. Djoko Apriono, M.Pd (Universitas Ronggolawe Tuban)
Dr. Gimin, M.Pd (Universitas Riau)
Dr. Ramalis Hakim, M.Pd (Universitas Negeri Padang)
Prof. Dr. Mazrur, M.Pd (UIN Palangkaraya)
Sembilan produk pembelajaran divalidasi, meliputi buku model, profil program, beranda maya, silabus dan RPP, panduan peserta, panduan instruktur, panduan evaluasi, dan media pembelajaran.
Prof. Dr. Mashudi memberikan masukan konstruktif: "Model secara teori dan filosofi sudah bisa digunakan, instruksionalnya jelas. Namun pada sintaks perlu ada tahapan yang lebih pasti sesuai teori pembelajaran."
Dr. Gimin menyarankan penambahan komponen Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan contoh perhitungan sederhana untuk memperkuat aspek bisnis.
Sementara itu, Prof. Dr. Bambang Hariadi menyatakan: "Secara umum instrumen yang digunakan sudah memuat kebutuhan data yang diperlukan dan layak digunakan untuk pengembangan program pelatihan."
Berdasarkan hasil validasi, para ahli menyimpulkan bahwa model ZEP "layak digunakan dengan sedikit revisi." Saat ini, model tersebut sedang menjalani uji coba kelompok kecil di STIE Jambatan Bulan Timika dan Politeknik Kesehatan Jayapura di Timika, Papua Tengah.
"Temuan dari uji coba kelompok kecil ini sangat bermanfaat untuk menyempurnakan produk ZEP," kata Sugiarso yang juga memiliki usaha persewaan ruko.
Prof. Dr. Mazrur dari UIN Palangkaraya mengapresiasi inovasi ini: "Saya berterima kasih mendapat kepercayaan luar biasa dari konsultan dan developer Freeport ini."
Model pembelajaran ZEP diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk meningkatkan jumlah wirausaha muda Indonesia dan mengurangi tingkat pengangguran terdidik di tanah air.
Penulis: Gita Yundhi Ekaputri