Jalin Kerjasama dengan Mitra, Sistem Sosial Model ZEP Semakin Kuat
Jalin Kerjasama dengan Mitra, Sistem Sosial Model ZEP Semakin Kuat
Model zero entrepreneurial project based learning (ZEP) merupakan sebuah model pembelajaran kewirausahaan untuk merintis usaha mikro modal nol. Model ini merupakan model karya seorang mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya bernama Sugiarso. Model ini pelan-pelan mulai mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Perhatian bukan hanya dari perguruan tinggi Islam (UIN KHAS Jember) maupun umum ( UNUSIDA dan UTM), namun juga dari SMU dan SMK.
Untuk meningkatkan efektivitas model ZEP ini, pengembang model yang saat ini bekerja di PT Freeport Indonesia ini melakukan kerjasama dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah SMK (MKKS-SMK) Kabupaten Mimika untuk memberikan pelatihan kewirausahaan kepada siswa kelas X dan XI. Pelatihan berjudul Berbisnis Modal Nol (Bismol) diselenggarakan bersama dengan Akselerasi Wirausahawan Muda (AWDA).
"Kami menyambut baik ajakan mengadakan pelatihan kewirausahaan ini yang dengan konsep Bekerja, Melanjutkan, Wirausaga (BMW) untuk SMK. Mengembangkan mental kewitausahaan sangat selaras dengan karakter SMK," kata Ketua MKKS SMK Kabupaten Mimika, Slamet Dwiyono.
Langkah cepat dilakukannya dengan berkoordinasi dengan para kepala SMK dengan fokus pada SMKN 2 Mimika yang dipimpinnya sebagai pelopor peserta pelatihan ini.
"Langkah awal kami melakukan sosialisasi kepada siswa dan guru di SMKN 3. Alhamdulillah setelah sosialisasi pendaftar mencapai lebih dari 50 siswa," ungkap pria yang juga menjabat sebagai Kepala SMKN 2 Agribisnis dan Agroteknologi Mimika ini.
Pelatihan Berbisnis Modal Nol ( Bismol) angkatan ke -10 akhirnya digelar pada 6-8 Februari 2026 dengan menggunakan model pembelajaran ZEP. Peserta berasal dari SMKN 2, SMKN 6, SMK Yosua Mimika. Hari pertama pelatihan dilaksanakan di Institut Jambatan Bulan (IJB) sedangkan hari kedua dan ketiga diadakan di kantor PT Telkomsel Branch Mimika
Kerjasama dengan PT Telkomsel
Menjalin kerjasama dengan mitra menjadi salah satu kunci sistem dukungan dalam model ZEP ini. Salah satu mitra AWDA ZEP ialah PT Telkomsel Branch Timika
"Saya mengajukan proposal ke PT Telkomsel Branch Timika dalam bentuk penggunaan fasilitas untuk pelatihan dan kesempatan menjadi reseller produk PT Telkomsel bagi para peserta pelatihan," urai Sugiarso yang juga sebagai pendiri AWDA
Sistem sosial model ZEP mencakup hubungan duo, hero, co, dan pro. Hubungan duo ialah sistem interaksi antara peserta dengan instruktur yang tanpa sekat waktu dan tempat. Hubungan hero ialah hubungan peserta dengan pembeli produk yang dijualnya. Hubungan co ialah interaksi antara peserta dan atau instruktur utama dengan instruktur pendamping dan tim AWDA ZEP lainnya. Hubungan pro ialah hubungan intruktur utama dan tim.AWDA ZEP dengan mitra, seperti PT Telkomsel Branch Mimika dan MKKS SMK Kabupaten Mimika ini.
"Kerjasama dengan MKKS SMK dan PT Telkomsel ini jelas memperkuat sistem sosial model ZEP," urai Sugiarso
Menurut pria yang juga menjadi koordinator Papuan Bridge Program PT Freeport Indonesia ini, produk DigiPos dari PT Telkomsel menjadi salah satu ide usaha peserta. Tentu saja kesempatan ini diberikan kepada peserta yang memenuhi persyaratan. Laporan keuangan rapi, rutin jualan harian, dan menguntungkan merupakan salah satu syarat pokok untuk bisa membeli DigiPos ini
Komitmen Sekolah
Komitmen dan dukungan dari sekolah menjadi dukungan yang sangat penting untuk keberhasilan program ini. Slamet Dwiyono selaku kepala SMKN 2 Agribisnis dan Agroteknologi Mimika bahkan tidak tanggung-tanggung komitmennya
"Kami akan memberikan bantuan Rp 150.000 per siswa jika setelah pelatihan ini telah rutin berjualan minimal tujuh hari. Tindakan ini merupakan wujud nyata komitmen kami ke program ini " kata Slamet lebih lanjut.
Selain itu sekolah juga memfasilitasi siswa dengan memberikan kesempatan pada hari tertentu, Senin setelah upacara misalnya, untuk berbisnis di sekolah. Lewat MKKS-SMK juga dirancang para peserta bisa menjual produknya di car free day pada hari Sabtu pagi.
Sementara itu, Sugiarso juga melihat bahwa peternakan ayam dan ikan di SNKN 2 Mimika serta kantin di sekolah-sekolah sebagai sarana efektif untuk merintis usaha skala mikro.
"Hal pokok yang dibutuhkan untuk keberhasilan program ini adalah konsistensi berjualan setiap hari walaupun masih kecil nilai penjualannya. Koneksi jualan siswa dengan peternakan dan kantin dalam rangkain supplier-input-process-output-customer (SIPOC) ini sangat mendukung konsistensi ini," katanya lebih lanjut.
Kegiatan ini, menurut Slamet Dwiyono, bukan hanya mendapat sambutan terbuka dari MKKS SMK Kabupaten Mimika, namun juga mendapatkan apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan Nasional dan Kepala Bidang SMK Kabupaten Mimika agar kegiatan ini bisa diikuti oleh semua SMK.
"Saya sangat berterimakasih atas usaha yang baik ini. Kegiatan ini sungguh melebihi harapan saya. Ternyata ini benar benar sebuah praktek pembelajaran mendalam," urai Pengawas Kepsek SMK Kabupaten Mimika, Sutiani.