Ketika Alam Menguji: Pentingnya Desain Pembelajaran Daring yang Adaptif
Ketika Alam Menguji: Pentingnya Desain
Pembelajaran Daring yang Adaptif
Ketika bencana alam melanda Aceh dan Sumatra, kita melihat bahwa proses
pendidikan sangat mudah terganggu. Pada situasi seperti ini, pendekatan
pembelajaran daring harus bersifat adaptif, bukan sekadar memindahkan kelas
tatap muka ke ruang digital. Adaptivitas mencakup kemampuan desain pembelajaran
untuk menyesuaikan kondisi siswa, ketersediaan sumber daya, serta dinamika
situasi di lapangan.
Pertama, adaptivitas terlihat pada fleksibilitas waktu. Banyak siswa yang
harus membantu keluarga, mengungsi, atau berpindah tempat. Mereka tidak dapat
mengikuti jadwal sinkron yang ketat. Oleh karena itu, materi asinkron, tugas
jangka panjang, dan panduan belajar mandiri menjadi sangat penting.
Kedua, adaptivitas juga menyangkut bentuk materi. Guru perlu menyediakan
berbagai format yang ramah akses, misalnya ringkasan materi dalam teks,
infografik sederhana, dan audio pendek. Pendekatan multimodal seperti ini
memberi peluang bagi siswa dengan keterbatasan jaringan untuk tetap belajar.
Ketiga, adaptivitas terkait dengan kesejahteraan emosional siswa. Bencana
mengganggu stabilitas psikologis. Guru harus memberikan afirmasi, menghindari
tugas berlebihan, dan menciptakan ruang dialog sederhana melalui pesan atau
voice note. Pendekatan empatik menjadi bagian penting dari desain belajar di
masa krisis.
Keempat, adaptivitas dapat diwujudkan dengan menyesuaikan metode evaluasi.
Penilaian formatif lebih tepat dibandingkan penilaian sumatif. Tugas yang
sederhana, berbasis kehidupan sehari-hari, dan tidak memerlukan internet berat
dapat menjadi pilihan terbaik.
Pembelajaran daring adaptif bukan hanya tentang teknologi, tapi tentang
kemampuan sistem pendidikan untuk tetap memanusiakan siswa di tengah kesulitan.
Dengan desain yang empatik, fleksibel, dan realistis, pendidikan dapat tetap
berjalan meskipun alam sedang menguji.