EVOLUSI ORANG PINTAR DI TENGAH LOMPATAN TEKNOLOGI
EVOLUSI ORANG PINTAR DI
TENGAH LOMPATAN TEKNOLOGI
Oleh: Redaksi EduTech
Manila, Jumat
sore awal Desember, menjadi saksi sebuah ironi yang menarik. Pada sesi penutup 11th
ADB International Education and Skills Forum, ketika sebagian peserta sudah
lelah, koper telah dikemas, dan pikiran bersiap pulang, justru muncul satu
presentasi yang membangunkan kesadaran banyak orang.
Di atas panggung
berdiri Lyqa Maravilla, seorang education influencer muda. Dengan gaya
lugas dan slide minimalis, ia menyampaikan presentasi berjudul The Future of
Education: Learning Beyond the Classroom. Satu slide yang ia tampilkan
cukup untuk membuat audiens termenung: cara manusia memperoleh pengetahuan
telah berubah drastis—dan cara belajar kita harus ikut berevolusi. Jika tidak,
bukan hanya metode belajar yang usang, tetapi otak kita sendiri berisiko
kehilangan relevansinya.
Dari
Hafalan ke Pencarian
Lyqa
memetakan perubahan ini secara sederhana namun tajam. Pada Era Print, informasi
bersifat fisik dan berada “di tangan”. Buku, koran, dan diktat menjadi pusat
pengetahuan. Orang pintar kala itu adalah mereka yang mampu menghafal. Siapa
yang menguasai isi buku, dialah rujukan.
Belajar
menuntut ketekunan dan fokus jangka panjang. Deep work menjadi keterampilan utama. Tidak ada tombol
pencarian, tidak ada ringkasan instan. Kebosanan justru menjadi latihan mental
untuk melatih daya tahan berpikir.
Memasuki Era
Search, informasi berubah menjadi on demand. Mesin pencari menggantikan
dominasi buku. Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Orang pintar
berevolusi menjadi “si pencari”—mereka yang piawai merumuskan kata kunci.
Namun, tantangan baru muncul: banjir informasi. Hafalan tak lagi memadai. Sikap skeptis dan kemampuan kurasi menjadi kunci. Siapa yang gagal memilah, akan tenggelam dalam informasi sampah.
Algoritma
dan Ilusi Kepintaran
Kini, kita
hidup di Era Algorithm. Informasi tidak lagi kita cari—ia yang mencari kita.
Media sosial menyuapkan konten sesuai preferensi, selera, bahkan emosi.
Bahayanya bukan sekadar pasivitas, melainkan hilangnya perspektif.
Algoritma
menciptakan echo chamber, ruang gema yang menguatkan bias. Dalam konteks
ini, kepintaran sering disalahartikan sebagai viralitas. Padahal, tantangan
sejatinya adalah tetap waras: mampu berpikir objektif di tengah banjir konten
yang memancing emosi.
Lyqa menawarkan
konsep reach to teach: sengaja melawan arus dengan mencari sudut pandang
yang berbeda, lalu mengajarkannya kembali. Di era algoritma, pemahaman sejati
justru lahir saat kita mampu menjelaskan kepada orang lain.
Generative
AI dan Paradoks Baru
Namun,
dunia tidak berhenti di era algoritma. Kita kini memasuki era Generative
AI—ChatGPT, Claude, Gemini, dan sejenisnya. Di sini, mesin tidak lagi sekadar
memberi tautan, tetapi langsung menyajikan jawaban. Ia mensintesis, merangkum,
bahkan menulis.
Orang pintar
bukan lagi yang paling hafal, melainkan yang paling piawai bertanya. Kualitas prompt
menentukan kualitas hasil. Proses belajar pun berubah menjadi dialog
iteratif—adu gagasan antara manusia dan mesin.
Ke depan, para
ahli bahkan memprediksi Era Post-Generative AI atau Agentic AI, ketika
teknologi bertindak mandiri: memesan tiket, mengatur perjalanan, hingga
bernegosiasi dengan sistem lain tanpa campur tangan manusia. Antarmuka menjadi
nyaris tak terlihat.
Keterampilan
Kuno yang Justru Menjadi Kunci
Di tengah
lompatan ini, muncul paradoks besar. Ketika mesin mengambil alih banyak fungsi
kognitif, manusia justru terancam popcorn brain—pikiran yang rapuh,
mudah terdistraksi, dan kecanduan gratifikasi instan.
Ironisnya,
keterampilan “kuno” kembali menjadi kemewahan: deep reading. Membaca
mendalam bukan sekadar menyerap informasi, tetapi membangun struktur berpikir,
logika sebab-akibat, dan basis pengetahuan internal. Tanpa itu, manusia akan
memiliki pengetahuan luas namun dangkal—tidak cukup kuat untuk mengarahkan
teknologi.
Sayangnya,
sistem pendidikan kita kerap tertinggal. Di saat dunia berbicara tentang AI dan
kebijaksanaan, ruang kelas masih sibuk menguji hafalan yang bisa dijawab mesin
dalam hitungan detik. Jika dibiarkan, ketimpangan kognitif tak terelakkan:
segelintir orang mampu “memerintah” AI, sementara mayoritas hanya menjadi objek
algoritma.
Kepintaran
yang Murah, Kebijaksanaan yang Langka
Di akhir
presentasinya, Lyqa mengingatkan, “We lose what we don’t use, but the world
will forget what we don’t share.” Namun, di masa depan, ada satu hal yang
patut ditambahkan: kepintaran akan semakin murah, tetapi kesadaran dan
kebijaksanaan justru makin mahal.
Mesin bisa
menghitung, menganalisis, bahkan mengoptimalkan kebijakan. Namun, ia tak
memiliki empati, niat baik, dan pertimbangan moral. Di sanalah peran manusia tak
tergantikan.
Semakin
canggih teknologi, semakin besar tuntutan untuk menjadi manusia seutuhnya.
Maka, jangan takut pada era AI. Yang patut ditakuti adalah ketika kita pandai
memerintah mesin, tetapi lupa caranya memanusiakan manusia.