Education in Emergencies
Education in Emergencies
Pendidikan dalam situasi
darurat (education in emergencies) merupakan isu krusial dalam upaya
global mencapai SDG 4. Konflik, bencana alam, dan krisis kemanusiaan sering
kali mengakibatkan terganggunya proses belajar bagi jutaan anak di seluruh
dunia. Padahal, pendidikan dalam situasi tersebut sangat penting untuk
memulihkan stabilitas psikologis dan sosial anak, sekaligus memastikan hak
belajar tetap terpenuhi.
Pendidikan di masa
darurat harus dirancang dengan cepat, adaptif, dan berfokus pada kebutuhan
dasar peserta didik. Fasilitas belajar sementara, guru relawan, serta modul
pembelajaran fleksibel dapat menjadi solusi awal untuk menjaga kontinuitas
pendidikan. Selain itu, pendidikan juga berfungsi sebagai sarana perlindungan
anak dari eksploitasi, kekerasan, dan keterasingan sosial.
Namun, implementasi
pendidikan dalam situasi darurat sering terkendala oleh keterbatasan dana,
infrastruktur, dan keamanan. Banyak daerah terdampak bencana atau konflik tidak
memiliki dukungan logistik dan kebijakan yang memadai. Koordinasi antar lembaga
pemerintah, LSM, dan lembaga internasional sering kali belum efektif.
Untuk itu, perlu adanya
kerangka kebijakan nasional yang menempatkan pendidikan sebagai bagian integral
dari manajemen krisis. Pengembangan kurikulum darurat, pelatihan guru tanggap
bencana, serta integrasi dukungan psikososial dalam kegiatan belajar dapat
memperkuat ketahanan sistem pendidikan.
Dengan memastikan akses pendidikan dalam kondisi apa pun, dunia menunjukkan komitmen nyata terhadap prinsip “leave no one behind.” Pendidikan dalam situasi darurat bukan hanya kebutuhan mendesak, tetapi juga investasi jangka panjang dalam membangun perdamaian dan kemanusiaan sesuai nilai-nilai SDG 4.