Dari Observasi ke Implementasi: Langkah-langkah Pengembangan Model Classroom-Oriented
Dalam perkuliahan Program Doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tanggal 3 November 2025, dua pakar pendidikan, Prof. Dr. Mustaji, M.Pd dan Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat, M.Pd, memandu sesi penting bertajuk “Dari Observasi ke Implementasi: Langkah-langkah Pengembangan Model Classroom-Oriented.” Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pembahasan mengenai landasan prosedural dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis kelas, yang kini menjadi fokus riset dan praktik di jenjang pascasarjana.
Dalam pembukaannya, Prof. Mustaji menegaskan bahwa pengembangan model pembelajaran bukanlah proses instan, tetapi melalui tahapan sistematis yang dimulai dari observasi hingga implementasi. Ia menyoroti pentingnya observasi mendalam terhadap situasi kelas, karakteristik peserta didik, serta konteks pembelajaran. “Model pembelajaran yang efektif lahir dari realitas kelas, bukan dari asumsi semata. Maka observasi menjadi fondasi ilmiah sebelum rancangan diterapkan,” ujarnya.
Observasi yang dilakukan mahasiswa S3 dalam perkuliahan ini mencakup analisis interaksi dosen-mahasiswa, dinamika kelompok belajar, serta efektivitas strategi penyampaian materi. Data yang diperoleh kemudian digunakan untuk merancang model pembelajaran berbasis kelas (Classroom-Oriented Model) yang kontekstual dan adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa.
Sementara itu, Dr. Syaiputra Wahyuda Meisa Diningrat menambahkan bahwa setelah tahap observasi, langkah berikutnya adalah desain konseptual dan pengembangan prototipe model. Dalam tahap ini, mahasiswa diminta untuk mengintegrasikan teori pembelajaran, prinsip desain instruksional, serta pendekatan pedagogik yang sesuai dengan karakteristik pembelajar dewasa di tingkat pascasarjana. “Tahapan desain adalah ruang kreatif untuk menerjemahkan hasil observasi menjadi solusi pembelajaran yang konkret,” jelasnya.
Setelah desain selesai, dilakukan implementasi terbatas di lingkungan kelas S3 Teknologi Pendidikan. Melalui kegiatan simulasi, mahasiswa berperan sebagai dosen dan peserta didik untuk menguji efektivitas rancangan model yang telah dibuat. Aktivitas ini memungkinkan mahasiswa untuk melihat bagaimana teori bekerja dalam praktik dan bagaimana model tersebut memengaruhi interaksi belajar.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa pendekatan Classroom-Oriented mampu meningkatkan partisipasi aktif mahasiswa, memperkuat interaksi akademik, serta menciptakan suasana belajar yang kolaboratif. Salah satu mahasiswa menyampaikan refleksinya, “Melalui proses observasi dan implementasi langsung, kami bisa melihat bahwa pembelajaran yang dirancang dengan pendekatan sistematis membuat mahasiswa lebih terlibat dan berpikir kritis.”
Selain itu, Prof. Mustaji juga menekankan pentingnya tahap refleksi dan evaluasi setelah implementasi. Ia menyatakan bahwa model pembelajaran yang baik selalu terbuka untuk perbaikan berkelanjutan. “Desain pembelajaran bukan karya final. Ia adalah proses dinamis yang terus berkembang seiring perubahan konteks, teknologi, dan kebutuhan peserta didik,” tutur beliau.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa mahasiswa S3 tidak hanya belajar tentang teori pengembangan model, tetapi juga mengalami langsung proses ilmiah di baliknya—mulai dari identifikasi masalah, pengumpulan data, pengujian desain, hingga refleksi hasil.
Dengan pendekatan observasi dan implementasi yang terstruktur, Program S3 Teknologi Pendidikan UNESA semakin menguatkan posisinya sebagai pusat pengembangan model pembelajaran yang berbasis riset dan praktik nyata. Melalui bimbingan Prof. Mustaji dan Dr. Syaiputra, mahasiswa didorong untuk tidak hanya menjadi peneliti yang kritis, tetapi juga inovator pembelajaran yang mampu membawa perubahan konkret di dunia pendidikan Indonesia.