Cultural Education
Cultural Education
Pendidikan budaya (cultural
education) berperan penting dalam membangun identitas, nilai, dan rasa
kebangsaan peserta didik. Dalam konteks SDG 4, pendidikan budaya tidak hanya
berfungsi sebagai pelestarian warisan tradisional, tetapi juga sebagai sarana
memperkuat toleransi dan harmoni sosial di tengah keberagaman global. Melalui
pendidikan budaya, siswa belajar memahami nilai kemanusiaan dan menghormati
perbedaan.
Integrasi pendidikan
budaya dalam kurikulum memungkinkan siswa mengenal sejarah, seni, bahasa
daerah, dan tradisi lokal sebagai bagian dari identitas nasional. Kegiatan
seperti tari tradisional, teater, dan kerajinan tangan dapat menjadi media
ekspresi kreatif yang mendukung perkembangan afektif siswa. Selain itu,
pendidikan budaya menumbuhkan kebanggaan dan kesadaran terhadap pentingnya
keberlanjutan warisan leluhur.
Namun, arus globalisasi
dan modernisasi sering kali menggeser nilai-nilai budaya lokal. Generasi muda
semakin jauh dari akar tradisi akibat dominasi budaya populer dan media
digital. Akibatnya, pendidikan budaya sering dianggap tidak relevan dengan
kebutuhan zaman modern.
Untuk mengatasi hal
tersebut, lembaga pendidikan harus mampu memadukan nilai tradisional dengan
pendekatan modern. Teknologi dapat digunakan untuk mendigitalisasi warisan
budaya dan menjadikannya bahan ajar interaktif. Kolaborasi dengan seniman dan
budayawan lokal juga perlu diperkuat agar pendidikan budaya tetap hidup dan
dinamis.
Dengan memperkuat
pendidikan budaya, sistem pendidikan tidak hanya mencetak individu yang cerdas
secara intelektual, tetapi juga berkarakter, berakar, dan beridentitas kuat.
Hal ini sejalan dengan SDG 4 yang menempatkan pendidikan sebagai alat untuk
membangun perdamaian, keberagaman, dan keberlanjutan antar generasi.