Ilmuwan, Bukan Sekadar Karya: Sidang Promosi Doktor Tetap Tak Tergantikan
Ilmuwan, Bukan Sekadar Karya: Sidang Promosi Doktor Tetap Tak Tergantikan
Pendahuluan
Di tengah arus reformasi pendidikan tinggi yang
menuntut efisiensi dan akselerasi, beberapa perguruan tinggi penyelenggara
program studi doktor (S3) di Indonesia telah mengambil kebijakan ujian
terbuka dan promosi doktor tidak diperlukan jika seorang kandidat telah
berhasil memiliki dan mempublikasikan dua artikel di jurnal internasional
bereputasi serta dinyatakan lulus ujian tertutup. Sebagian pihak menilai
sidang terbuka ini tidak lebih dari sekadar seremoni yang menghabiskan waktu
dan biaya. Namun, memandang sidang promosi semata-mata sebagai beban
administratif adalah sebuah kekeliruan fatal dalam memahami esensi dari gelar
akademik tertinggi.
Publikasi internasional yang bereputasi memang menjadi
bukti sahih bahwa sebagian dari hasil penelitian mahasiswa telah memenuhi
standar ilmiah global. Kendati demikian, pencapaian tersebut bersifat perlu (necessary),
tetapi belum cukup (sufficient) untuk melegitimasi kapasitas utuh
seorang ilmuwan. Ada batas-batas substantif yang memisahkan antara kualitas
sebuah tulisan dengan kematangan personal sang penulis sebagai pemegang
otoritas keilmuan.
Validasi Personal di Atas Kertas
Argumen pertama dan paling mendasar terletak pada apa
yang diuji. Artikel jurnal menilai produk penelitian, sedangkan sidang
promosi menilai peneliti sebagai ilmuwan. Dalam ekosistem publikasi modern,
naskah yang lolos peer-review mencerminkan kualitas teks yang telah
melewati proses penyuntingan berkali-kali. Namun, jurnal tidak pernah bisa
memotret secara utuh penguasaan teori secara komprehensif, kemampuan
mensintesis konsep secara makro, maupun kedewasaan akademik kandidat dalam
menghadapi kritik secara langsung.
Terlebih dalam praktik riset kolaboratif, sebuah artikel
internasional sering kali ditulis bersama promotor atau tim peneliti dengan
porsi kontribusi yang bervariasi. Melalui sidang promosi, komunitas akademik
dapat melakukan verifikasi faktual untuk memastikan bahwa ide fundamental riset
benar-benar dipahami oleh kandidat, setiap keputusan metodologis dapat
dipertanggungjawabkan, dan kontribusi keilmuan tersebut murni lahir dari rahim
intelektualnya sendiri, bukan hasil dari dominasi peran promotor atau bantuan
pihak lain. Publikasi membuktikan kualitas karya, tetapi sidang promosi
membuktikan kualitas kandidat.
Reduksionisme Jurnal vs. Konstruksi Disertasi
Secara struktural, sebuah artikel ilmiah mengalami
reduksi ruang yang sangat ketat akibat keterbatasan halaman jurnal. Artikel
umumnya hanya memuat serpihan dari hasil penelitian, fokus yang sempit, dan
pembahasan yang diringkas demi kebutuhan pembaca praktis.
Sebaliknya, sebuah disertasi menyimpan kekayaan akademik
yang jauh lebih luas: mulai dari eksplorasi landasan filosofis (ontologi,
epistemologi, aksiologi), kerangka teoritis yang utuh, detail metodologi secara
menyeluruh, hingga kontribusi ilmiah yang komprehensif. Tanpa adanya forum
sidang promosi, keseluruhan konstruksi ilmiah yang megah di dalam disertasi
tersebut tidak akan pernah diuji dan dieksplorasi secara utuh di ruang publik.
Ketangkasan Berpikir Spontan
Proses publikasi di jurnal internasional memberikan
kemewahan berupa "waktu". Seorang penulis memiliki waktu
berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, untuk merenung, membaca referensi, dan
menyusun jawaban tertulis atas keberatan para reviewer.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan atmosfer sidang
promosi. Di hadapan dewan penguji dan audiens, kandidat dituntut untuk berpikir
taktis, merespons pertanyaan secara langsung, dan mempertahankan argumentasi
secara spontan tanpa bantuan gawai atau tumpukan buku referensi. Di sinilah
letak ujian sesungguhnya dari kompetensi seorang doktor: kemampuan
mempertahankan keilmuannya secara lisan dan langsung di hadapan komunitas
akademik, bukan sekadar bersembunyi di balik untaian kalimat yang telah dipoles.
Akuntabilitas Publik dan Nilai Simbolik
Gelar doktor bukanlah hak milik privat antara mahasiswa
dan promotornya, melainkan sebuah amanah publik. Sebagai derajat akademik
tertinggi, pemberian gelar doktor menuntut transparansi dan akuntabilitas
kepada masyarakat luas. Sidang promosi berfungsi sebagai kontrol mutu eksternal
dan bentuk pertanggungjawaban ilmiah bahwa universitas tidak sedang
"membagi-bagikan" gelar di ruang gelap. Semakin tinggi gelar yang disandang, semakin besar pula tuntutan akan
keterbukaan proses penilaiannya.
Secara filosofis, universitas-universitas terbaik
dunia seperti University of Oxford, University of Cambridge, Harvard
University, hingga National University of Singapore tetap mempertahankan
tradisi oral defense atau viva voce examination, bahkan pada
jalur PhD by Publication. Mereka memahami bahwa sidang promosi memiliki
nilai simbolik sebagai ritus pengukuhan resmi seseorang untuk masuk ke dalam circle
komunitas ilmuwan. Ini adalah deklarasi publik bahwa sang kandidat telah
bertransformasi dari seorang "pebelajar" menjadi seorang "ilmuwan"
yang memiliki otoritas akademik.
Penutup
Menghapuskan sidang promosi doktor dengan dalih sudah
memiliki 2 publikasi internasional bereputasi adalah sebuah langkah mundur yang
mengancam marwah akademik. Publikasi dan ujian tertutup memang menjadi benteng
mutu penelitian, namun sidang promosi tetap tegak berdiri sebagai tahap akhir
yang tak tergantikan untuk menguji integritas, mentalitas, dan kapasitas
intelektual langsung dari sang ilmuwan. Gelar doktor tidak boleh sekadar
diberikan kepada mereka yang memiliki karya berkualitas di atas kertas, tetapi
harus diserahkan kepada sosok yang mampu mempertanggungjawabkan dan
mengembangkan ilmu tersebut secara terbuka demi kemaslahatan publik. (cakmus,
Teknolog Pendidikan Unesa)